Minggu 23 Agustus 2026 - 13:14
"Masalah Senjata" Harus Diselesaikan dengan Manajemen Nasional dan Berporos pada Marja'iyah

Hawzah / Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi mengatakan: Pandangan kami adalah bahwa masalah senjata harus berjalan dengan manajemen nasional dan jauh dari tekanan-tekanan asing serta dengan meminta pertimbangan dari Marja'iyah diniyah (otoritas keagamaan).

Berita Hawzah – Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi, Imam Jumat Najaf Ashraf, dalam khutbah salat Jumat yang disampaikan di Husainiyah A'dham Fatimiyah Najaf Ashraf, menguraikan pandangan-pandangannya mengenai isu-isu penting Irak dan kawasan.

Masalah Senjata di Irak

Imam Jumat Najaf Ashraf, terkait dengan masalah senjata di Irak yang ia gambarkan sebagai "persoalan yang masih panas," mengatakan: "Pandangan kami adalah bahwa masalah ini harus berjalan dengan manajemen nasional dan jauh dari tekanan-tekanan asing serta dengan meminta pertimbangan dari otoritas keagamaan, marja'iyah diniyah. Risiko-risiko internal dan eksternal di sekitar Irak harus diperhatikan, karena tujuan akhirnya adalah menjaga keamanan, kemerdekaan, dan kedaulatan nasional. Di bawah naungan segitiga ini, masalah senjata harus dikaji, dan kata akhir dalam hal ini menjadi milik otoritas keagamaan, karena merekalah yang memiliki wewenang dalam mengeluarkan fatwa."

Urusan Dalam Negeri Irak: Lembaga Syuhada 

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi dalam bagian lain pidatonya merujuk pada laporan-laporan "Lembaga Syuhada" (Mu'assasah asy-Syuhada') dan mengatakan: "Lembaga ini melaporkan adanya 20.000 berkas kematian tanpa jasad di seluruh Irak, dengan Provinsi Al-Anbar menempati posisi teratas dalam daftar tersebut. Lembaga ini juga melaporkan 22.000 kasus pelanggaran dan pemalsuan dokumen, di antaranya tercatat nama 471 orang Ba'tsi dan 2.302 teroris tercantum dalam daftar para syuhada. Oleh karena itu, kami meminta Lembaga Syuhada untuk membersihkan daftar-daftar tersebut dari keberadaan teroris, orang-orang Ba'tsi, dan nama-nama palsu, dan kami mengapresiasi upaya serta keikhlasan lembaga ini dalam menindaklanjuti persoalan ini."

Urusan Regional: Situasi Bahrain

Imam Jumat Najaf Ashraf terkait situasi kawasan mengatakan: "Bahrain telah mencabut kewarganegaraan 69 orang, di antaranya sejumlah ulama agama. Tuduhan yang dialamatkan kepada mereka adalah menggangu kesetiaan nasional, bersimpati dengan Iran, dan perilaku sektarian. Bahkan Muhammad Ghuloum, seorang pembaca syair Ahlulbait dan pengarang syair 'Salam ya Mahdi,' juga dicabut kewarganegaraannya. Kemarin, seorang pemuda Bahrain bernama 'Mahdi Zuhair' juga dipenjarakan hanya karena membacakan ziarah Imam Husain (as) secara terbuka. Ini adalah contoh-contoh dari perang melawan Syiah yang sedang dihadapi oleh kawasan ini. Kita harus menjauhi bahasa yang menimbulkan ketegangan terhadap Syiah dan hidup berdampingan dengan semua pihak dalam semangat persaudaraan Islam."

Khutbah Keagamaan dan Sirah Imam Hasan al-Askari (Alaihis Salam)

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi dalam khutbah keagamaan setelah menyampaikan nasehat untuk bertakwa, mengatakan: "Kita berada pada peringatan syahidnya Imam Hasan al-Askari (as), dan di sini kita membacakan beberapa hadis serta wasiat beliau."

Ia menambahkan: "Imam (as) berkata:

 خصلتان لیس فوقهما شیء الإیمان بالله ونفع الإخوان

'Dua sifat yang tidak ada sesuatu pun di atasnya: Iman kepada Allah dan memberi manfaat kepada saudara-saudara.'" Hadis ini menekankan dimensi kemanusiaan dan moral dari pribadi seorang mukmin, karena iman tidak boleh terpisah dari pelayanan kepada sesama dan amal saleh.

Beliau melanjutkan: "Dan dalam wasiat beliau kepada para syiah disebutkan: 

أوصیکم بتقوی الله والورع فی دینکم اتقوا الله وکونوا زینًا ولا تکونوا شینًا جرّوا إلینا کل مودة وادفعوا عنا کل قبیح أکثروا ذکر الله وذکر الموت وتلاوة القرآن والصلاة علی النبی صلی الله علیه وآله فإن الصلاة علی رسول الله عشر حسنات.

 'Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Allah dan wara' dalam agama kalian. Bertakwalah kepada Allah dan jadilah kalian perhiasan (bagi kami), dan janganlah menjadi aib. Tariklah setiap kecintaan kepada kami dan tolaklah setiap keburukan dari kami. Perbanyaklah mengingat Allah, mengingat kematian, membaca Al-Qur'an, dan bershalawat kepada Nabi (saw), karena shalawat kepada Rasulullah itu (bernilai) sepuluh kebaikan.'"

Khatib Jumat Najaf Ashraf menunjukkan: "Tahap sejarah yang dilalui oleh Imam Hasan al-Askari (as) di bawah kekuasaan Bani Abbasiyah yang keras pada masa al-Mutawakkil dan setelahnya, adalah tahap pembantaian, pemusnahan, pengejaran, dan penindasan terhadap kaum Syiah; bahkan pengejaran dan pemusnahan mencapai tingkat di mana Imam Hasan al-Askari (as) melarang para syiahnya untuk memberi salam kepadanya."

Beliau melanjutkan: "Keadaan di bawah upaya pembantaian dan pemusnahan ini mencapai titik di mana Imam al-Askari (as) memerintahkan para syiahnya untuk memakai cincin di tangan kiri sebagai pengganti tangan kanan, dan beliau bersabda: 'Kami dulu memerintahkan kalian memakai cincin di tangan kanan, namun kini kami perintahkan untuk memakainya di tangan kiri agar kalian tidak dikenali.'"

Hujjatul Islam wal Muslimin Sayyid Shadruddin Qabanchi menyatakan: "Mungkin peran terpenting yang dimainkan oleh Imam Hasan al-Askari (as) setelah melindungi para syiahnya dari pemusnahan adalah mempersiapkan landasan bagi ghaibah Imam Mahdi al-Muntazar (semoga Allah menyegerakan kemunculannya yang mulia) dan merumuskan peta jalan bagi kaum Syiah pada masa ghaibah; bahkan diriwayatkan dari beliau: 'Barang siapa di antara para fukaha yang menjaga dirinya, memelihara agamanya, menentang hawa nafsunya, dan taat kepada perintah Imamnya, maka wajib bagi awam untuk bertaklid kepadanya.'"

Ia mengakhiri dengan mengatakan: "Di sini ditekankan prinsip taklid dan rujuk kepada para fukaha, dan dengan demikian mazhab Syiah serta umat Syiah terjaga; dan jika bukan karena hal itu, niscaya Syiah akan binasa."

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha